Weekly Strategy

Weekly Strategy

Monday , 20 Jan 2020 09:56

Konsolidasi 6,225.69 - 6,329.31, Target Sementara 6,393.36 

1) Berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia (BI), tercatatkan kegiatan usaha pada 4Q 2019 melambat dibandingkan dengan 3Q2019 namun masih tumbuh positif. Kinerja dari kegiatan usaha tersebut didorong oleh ekspansi pada: i) Sektor Keuangan, Real Estate, dan Jasa Perusahaan dengan nilai Saldo Bersih Tertinggal (SBT) 3.01%. ii) Sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan SBT 2.76%. iii) Sektor jasa dengan SBT 2.51%. iv) Sektor
pengangkutan dan komunikasi dengan SBT 1.06%. Sedangkan beberapa sektor yang mengalami kontraksi diantaranya: i) Sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan dengan SBT sebesar -2.03%. ii) Sektor pertambangan dan penggalian dengan SBT -1.25%. Penurunan di sektor pertanian terjadi pada subsektor tanaman bahan makanan karena kemarau panjang dan rendahnya curah hujan. Adapun responden memperkirakan kegiatan usaha pada 1Q2020 akan
meningkat dimana tercatatkan SBT perkiraan kegiatan usaha sebesar 10.70%, lebih tinggi dari SBT kuartal sebelumnya yang sebesar 7.79%. 2) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan defisit neraca dagang pada bulan Desember 2019 sebesar US$ 28.2 juta, jauh lebih rendah dari defisit pada bulan sebelumnya yang sebesar US$ 1.07 miliar. Defisit di bulan Desember disebabkan oleh defisit neraca minyak dan gas (migas) US$ 9.3 miliar. Sementara itu neraca perdagangan non migas tercatatkan surplus sebesar US$ 6.39 miliar. Dengan demikian neraca perdagangan sepanjang tahun 2019 mengalami defisit sebesar US$ 3.19 miliar, turun dibandingkan dengan tahun 2018 yang sebesar US$ 8.69 miliar. Di tahun 2020 BI berharap neraca perdagangan akan mencetak surplus. Optimisme
tersebut berlandaskan pada harapan akan harga komoditas andalan Indonesia yang masih berpeluang untuk meningkat, yang akhirnya dapat meningkatkan nilai ekspor. Namun yang perlu diwaspadai adalah beberapa harga komidtas andalan tersebut masih memiliki potensi penurunan secara agregat karena sangat pergantung dengan volume perdagangan global. Disamping itu pemerintah di tahun 2020 akan meningkatkan pasokan CPO dalam mandatori biodiesel 30% (B30) yang diharapkan dapat menekan defisit neraca dagang dengan meningkatkan kinerja ekspor. 3) BPS juga mencatatkan persentase jumlah penduduk miskin di Indonesia per September 2019 menurun menjadi 24.79 juta dibandingkan periode sebelumnya September 2018 yang sebanyak 25.67 juta. Walaupun secara total kemiskinan menurun, disparitas kemiskinan antara kota dan desa masih tinggi. Tercatatkan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan per September 2019 turun 0.33% yoy dari 6.89% menjadi 6.56%. Sementara penduduk miskin di daerah perdesaan per September 2019 turun 0.5% yoy dari 13.1% menjadi 12.6%. Selain itu penurunan angka kemiskinan diikuti dengan berubahnya garis kemiskinan dari sebelumnya sebesar Rp. 425.250 per kapita (Maret 2019) menjadi Rp. 440.538 per kapita (September 2019). Beberapa komoditas yang memberi sumbangan besar kepada garis kemiskinan di bulan September di perkotaan diantaranya beras (kontribusi 20.35%), rokok kretek filter (kontribusi 11.17%), telur ayam ras (kontribusi 4.44%), daging ayam ras (kontribusi 4.07%), dan mie instan (kontribusi 2.32%).
 
Secara keseluruhan dalam sepekan terakhir IHSG menguat sebesar 0.27% atau 16.72 point, ditutup di level 6,291.66. Akumulasi minat beli asing dalam sepekan terakhir juga tercatatkan mendukung menguatnya IHSG sebesar Rp.762.47 miliar diantaranya pada saham BBRI, BBCA, ASII, SMGR, BRPT, GGRM, ACES, SMMA, UNVR, PGAS. Dan dalam dua pekan sampai dengan empat pekan terakhir juga tercatatkan minat beli asing masing masing sebesar Rp.1.77 triliun, Rp.2.72 triliun, dan Rp.4.11 triliun. Dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatatkan menguat dari Rp.13.812 menjadi Rp.13.648. IHSG masih akan berfluktuatif dalam sepekan kedepan dan masih bergerak dalam rentang 6,225.69 – 6,329.31. Adapun target terdekat sementara dikisaran level 6,393.36 bila menguat dan berhasil bertahan di atas level 6,329.31. Sedangkan target koreksi sementara dikisaran level 6,161.65 bila melemah dan bertahan di bawah 6,225.69. Beberapa saham di LQ45 yang saat ini secara histori mendekati PE ratio terendah diantaranya ADRO, AKRA, ASII, BBNI, BSDE, GGRM, HMSP, INDF, JPFA, JSMR, LPPF, MNCN, PTPP, PWON, SCMA, TLKM, UNTR, WIKA, dan WSKT. Berita ekonomi domestik diantaranya investasi asing langsung 4Q2019 dan 
kebijakan tingkat bunga Januari.