Equity Research

Equity Detail

Wednesday, 16 Jan 2019 04:06

NERACA PERDAGANGAN RIDESEMBER 2018 

Defisit Neraca Perdagangan RI Berlanjut di AKHIR TAHUN 2018

 

Kinerja Ekspor Desember 2018 turun 4,9% MoM

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor RI pada bulan Desember 2019 tercatat senilai US$ 14,2 miliar mengalami penurunan sebesar 4,9% MoM dibandingkan dengan ekspor November 2018 US$ 14,9 miliar. Nilai ekspor RI ini juga tercatat turun 4,6% YoY bila dibandingkan dengan kinerja ekspor Desember 2017 sebesar US$ 14,9 miliar. Hal ini disebabkan oleh adanya penurunan ekspor non migas menjadi US$ 12,4 miliar (-8,2% MoM vs US$ 13,5 miliar per November 2018 dan -7,0% YoY vs US$ 13,4 miliar per Desember 2017) terutama dari turunnya ekspor non migas produk bijih, kerak & abu logam (-56,3% MoM) dan besi & baja (-22,7% MoM). Sementara itu, ekspor migas tercatat mengalami kenaikan pada periode yang sama mencapai senilai US$ 1,7 miliar (+27,3% MoM vs US$ 1,4 miliar per November 2018 dan +16,7% YoY vs US$ 1,5 miliar per Desember 2017) ditopang oleh meningkatnya ekspor gas (+51,6% MoM dan +57,2% YoY).

 

Kinerja Impor Desember 2018 turun 9,6% MoM

Dari sisi impor, BPS mencatat nilai impor RI di bulan Desember 2018 mengalami penurunan sebesar 9,6% MoM menjadi US$ 15,3 miliar (vs US$ 16,9 miliar di November 2018) dikontribusikan dari penurunan impor migas sebesar 31,5% MoM (US$ 1,9 miliar vs US$ 2,9 miliar per November 2018). BPS mencatat impor minyak mentah, hasil minyak dan gas masing-masing turun signifikan sebesar 45,1% MoM (-41,9% YoY), 26,2% MoM (-13% YoY) dan 21,9% MoM (-23,6% YoY). Sementara itu, impor non migas RI di Desember 2018 juga tercatat mengalami penurunan sebesar 5,1% MoM menjadi US$ 13,3 miliardari US$ 14,0 miliar di November 2018 sejalan dengan signifikannya penurunan impor perhiasaan/permata (-45,5% MoM), bahan kimia organik (-27,1% MoM), gula & kembang gula (-26,3% MoM) serta kendaraan & bagiannya (-16,5% MoM). Dilihat dari periode YoY, total impor RI mengalami kenaikan tipis sebesar 1,2% YoY (vs US$ 15,1 miliar per Desember 2017) yang didorong oleh naiknya impor non migas (+6,2% YoY vs US$ 12,5 miliar per Desember 2017).

 

Desember 2018, neraca perdagangan RI defisit  US$ 1,1 miliar

Neraca perdagangan RI pada bulan Desember 2018 mengalami defisit senilai total US$ 1,1 miliar yang berhasil ditekan turun sebesar 44,8% MoM dari posisi defisit per November 2018 senilai US$ 1,99 miliar sebagai hasil dari turunnya impor (-9,6% MoM) yang lebih dalam dibandingkan turunnya ekspor RI (-4,9% MoM).

 

Neraca perdagangan RI akhir tahun tercatat defisit US$ 8,6 miliar

Dengan demikian, neraca perdagangan RI 2018 tercatat mengalami defisit senilai US$ 8,6 miliar dibandingkan posisi surplus US$ 11,8 miliar di 2017. Dilihat dari periode kuartalan, neraca perdagangan di 4Q18 juga tercatat mengalami defisit senilai US$ 4,9 miliar, naik signifikan sebesar 84,7% QoQ (vs US$ 2,6 miliar di 3Q18). Defisit yang terjadi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia hingga ke level US$ 75 per barel, ditahannya kenaikan BBM dan TDL, dibukanya kembali kehadiran premium di Jawa-Madura-Bali dan depresiasi Rupiah imbas dari tensi perang dagang. Kedepannya, kami melihat defisit neraca perdagangan RI masih akan berlanjut sejalan dengan tren outlook perlambatan ekonomi global namun cenderung menyusut di 1H19 berkat rendahnya harga minyak dunia hingga berada di level US$ 50 per barel.

 

 

 

Ringkasan Ekonomi Makro

Periode

2015

2016

2017

2018P

2019P

PDB (%)

4,8%

5,0%

5,1%

5,2%

5,2%

Rupiah/US$ (Rp)

13.855

13.436

13.555

14.500

15.000

BI 7-day RRR (%)

-

4,75

4,25

5,75

6,50

Inflasi (%)

3,35

3,02

3,61

4,00

4,50

CA/PDB (%)

(2,06)

(1,80)

(1,70)

(2,25)

(2,50)

Cadangan Devisa (US$ juta)

105.931

116.362

130.196

117.176

113,661

Sumber: Bank Indonesia, BPS dan Riset Lotus Andalan